Tradisi Selikuran di Padukuhan Pulengelo

Dwi S Yanie 09 Maret 2026 20:05:13 WIB

Sidoharjo (SIDA) – Tradisi Selikuran yang merupakan warisan budaya Jawa masih terus dilestarikan oleh masyarakat Kalurahan Sidoharjo, Kapanewon Tepus. Tradisi yang dilaksanakan pada malam ke-21 (selikur) bulan Ramadhan ini menjadi momen untuk menyambut sepuluh hari terakhir bulan suci sekaligus mempersiapkan diri dalam menyambut malam Lailatul Qadar.

Tradisi yang diinisiasi oleh Wali Songo ini biasanya diisi dengan berbagai kegiatan religius seperti kenduri atau doa bersama, sedekah makanan berupa sego gudangan maupun tumpeng, serta iktikaf di masjid. Selain meningkatkan nilai spiritual, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan serta memperkuat kebersamaan di tengah masyarakat.

Di Kalurahan Sidoharjo, tradisi Selikuran masih dijaga kelestariannya. Setiap padukuhan diwajibkan melaksanakan kegiatan tersebut sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.

Seperti yang terlihat di Padukuhan Pulengelo, warga tampak berbondong-bondong menuju Balai Padukuhan untuk mengikuti tradisi Selikuran. Masyarakat datang dengan membawa makanan dari rumah masing-masing berupa nasi beserta lauk pauk yang nantinya akan dinikmati bersama.

Di balai padukuhan juga disiapkan tumpeng yang kemudian didoakan oleh tokoh yang dituakan di padukuhan tersebut atau yang biasa disebut kaum. Doa bersama tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan Selikuran sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus memohon keberkahan bagi seluruh warga.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 

Pencarian

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Pengunjung